Juguran RTIK Purbalingga Dengan Tema Desa, Media Sosial dan Hukum

Juguran RTIK Purbalingga – Sabtu, 4 Februari 2017 bertempat di Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, dilaksanakan Juguran dengan mengangkat tema “Desa, Media Sosial dan Hukum” dengan narasumber utama Mariam F. Barata yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika Kementerian Komunikasi RI.

Acara Juguran ini terselenggara berkat kerjasama Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Kabupaten Purbalingga, Gedhe Foundation, Gerakan Desa Membangun, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. Peserta yang hadir dari berbagai kalangan, muali dari perwakilan Pemdes se-Kecamatan Bobotsari dan beberapa desa lain di Purbalingga, dinas dan UPT, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum.

*********

juguran RTIK purbalingga

Acara diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampiakan oleh Kang Sukman, selaku ketua RTIK Purbalingga, disusul kemudian Bp. Bambang HS selaku Kepala Desa Karangtalun. Tak lupa Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Purbalingga Tri Gunawan memberikan sambutannya sekaligus membuka acara Juguran.

Setelah rehat sejenak, acara inti pun dimulai. Mariam F. Barata selaku Sesditjen Aptika Kominfo selaku narasumber utama memaparkan mengenai banyaknya pengguna internet di Indonesia, lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia. Tak melulu di kota saja, namun di pelosok desa pun sudah bisa mengakses internet dengan mudahnya. Ada upaya dari pemerintah agar jaringan internet bisa merata di seluruh Indonesia.

Mudahnya akses internet membuat informasi dengan cepet tersebar luas, baik lewat media sosial maupun website. Tentu saja tidak semua informasi positif yang tersebar, banyak informasi bohong dan menyesatkan atau biasa disebut berita hoax, sehingga masyarakat harus bisa menyaring, lebih cerdas dalam menanggapi sebuah informasi.

Sumanto, Perangkat Desa Kalibagor, Banyumas, menjadi narasumber berikutnya. Dalam pemaparannya beliau menyampaikan mengenai pentingnya website desa, dengan adanya website desa maka segala informasi terkait desa bisa dipublikasikan secara luas.

Tidak sebatas publikasi informasi saja, produk hasil pengrajin desa bisa dipasarkan lewat website desa juga. Sebagai contoh adalah Payung produksi pengrajin Desa Kalibagor yang bahkan sudah sampai luar negeri, semua berawal dari informasi yang dimuat dalam website desa. Dalam mengelola web tersebut, melibatkan beberapa kelompok yang bertugas mencari berita, namun admin masih dipegang oleh Sumanto sendiri.

Pemutaran Film “Langka Receh” dan “Lentera Maya”

Dalam sesi pemutaran film, ada dua film yang diputar, masing-masing berjudul Langka Receh yang merupakan film pendek karya siswa-siswi SMP 4 Satu Atap Karangmoncol dan film Lentera Maya.

Sebagai gambaran, film pendek “Langka Receh” merupakan film karya anak-anak yang masih duduk dibangku SMP, namun sudah memenangkan berbagai lomba atau festival film tingkat lokal, nasional maupun internasional, dimana dalam proses pembuatannya film ini hanya menggunakan peralatan sederhana. Keterbatasan bukanlah penghalang bagi siswa-siswi SMP 4 Satu Atap Karangmoncol, dimana selain keterbatasan peralatan, letak sekolah yang termasuk terpencil pun bukan alasan untuk dapat berkarya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Bapak Tofik dari KIM Lentera, yang juga merupakan Kades Karanganyar.

Film ini berdurasi kurang lebih lima menit, disutradarai oleh Eka Susilawati dan Miftakhatun, produksi Sawah Artha Film, yang merupakan ekstrakulikuler film di sekolah tersebut. Bercerita tentang praktik kecurangan yang tanpa disadarai sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan bentuk perlawanannya dari perspektif anak SMP. Film sederhana tapi kaya makna, bahasa yang dipergunakan dalam film ini adalah bahasa ngapak, bahasa daerah Purbalingga.

Diceritakan tentang seorang anak SMP yang beli ke warung dan selalu mendapatkan kembalian beberapa bungkus permen, ketika ditanya ke penjual kenapa kok selalu permen kembaliannya, jawabannya selalu langka receh, yang artinya tidak ada receh. Saat akhir film diceritakan anak tersebut membeli buku dan membayar dengan permen, tapi apa mau dikata, meski diwarnai dengan “adu mulut” antara keduanya, nyatanya yang punya warung tidak mau dibayar dengan permen, maunya dengan uang, padahal permen tersebut adalah hasil kembalian dari dia.

Untuk film kedua adalah “Lentera Maya“, film #Lenteramaya merupakan film yang dihadirkan oleh ICT Watch dan WatchdoC serta didukung oleh Ford Foundation. Film ini merupakan film dokumenter yang merangkum beberapa peristiwa penggunaan internet dan kehidupan digital masyarakat Indonesia. Beberapa penggal dalam film ini merupakan isu yang terjadi sekarang ini, penyebaran berita palsu (hoax) yang kian populer dan kian meningkatnya intoleransi di Indonesia.

Isi dalam film ini menegaskan betapa pentingnya pengembangan literasi digital, utamanya bagi generasi muda yang dengan mudahnya sekarang ini menerima informasi melalu gadget yang sudah menjadi “makanan” sehari-hari mereka. Berita atau informasi yang mudah berkembang dan tersebar luas tanpa sensor perlu ditanggapi dan dihadapi dengan cerdas.

Pemaparan Aplikasi PETANI oleh tim 8villages

Pada sesi terakhir, disampaikan mengenai aplikasi PETANI oleh tim dari 8villages. Meskipun nama aplikasinya PETANI, namun manfaat aplikasi ini untuk semua kalangan, baik itu penyuluh, institusi pemerintah, pihak bank, pakar pertanian, petani, maupun masyarakat umum.

Sesuai dengan nama aplikasinya, apa yang terdapat dalam aplikasi tersebut tentu saja seputar dunia pertanian, diantaranya tanya jawab, dimana petani dapat bertanya kepada pakar melalui aplikasi, kemudian pakar akan menjawab masalah petani kapanpun dan dimanapun sehingga masalah bisa diselesaikan dengan cepat. Ada juga informasi tambahan seputar pertanian dapat diakses melalui fitur artikel, dimana informasi tersebut ditulis oleh pakar pertanian, sehingga bisa memperkaya ilmu dan meningkatkan hasil pertanian. Jual produk, lapor panen, lapor pupuk, dan ada beberapa fitur lain dalam aplikasi yang sangat bermanfaat.

*********

Kisaran pukul 18.00 WIB rangkaian acara juguran selesai, masih ada satu agenda lagi yang masih tersisa, yaitu makan malam bersama dan diskusi mengenai peran RTIK Purbalingga kedepannya. Setelah jeda sejenak untuk shalat maghrib, bertempat di RM Mbok Sarun Bobotsari acara terakhir dilangsungkan. Mengingat waktu yang sudah malam acara ini pun tak berlangsung lama, hanya makan dan sedikit diskusi santai, karena memang keesokan harinya masih ada satu agenda acara lagi yaitu pengukuhan RTIK Purbalingga bertempat di Desa Dagan, Kecamatan Bobotsari.

Waktu menunjukkan pukul 20.15 WIB kurang lebihnya, acara selesai. Setelah siang hingga sore hujan turun derasnya, malam itu hujan masih rintik-rintik, sebuah tonggak sudah tertancapkan, sebuah niatan tertunaikan, berharap menjadi awal yang baik demi kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi di Purbalingga khususnya dan Indonesia pada umumnya. Demikianlah.

6 Comment

  1. RTIKPurbakingga ada menjadi bagian dari membangun NKRI dari pelosok2 desa.
    Mantap luar biasah.Jempul dua Kang kadi.

    1. Biasa diluar mas, mantap juga buat Anda 🙂

  2. Lengkap lengkip, beritanya… TeOPe BeGeTe

    1. Masih banyak yang kurang itu bu, seingatnya saya saja 🙂

  3. Acara yang inspiratif dan semoga aplikasi petani dapat dikembangkan hingga mencapai seluruh wilayah Indonesia. Terimakasih sharenya , sangat informatif. Salam kenal

    1. Semoga saja demikian, dan hal tersebut tentu saja membutuhkan dukungan semua pihak.
      Terimakasih kembali. Salam kenal.

Leave a Reply