Menggunakan Akal Sehat, Meneladani Rasulullah SAW

Ah, rasanya tak perlu diperjelas lagi. Kebencian merupakan hal buruk yang tak seharusnya dilestarikan. Mudah saja, siapa yang memendam kebencian maka dia akan menyimpan gelombang amarah luar biasa. Bila akal sehat tak jalan, maka dia akan mencari musuh yang tak sejalan dengan pemikirannya.

Sebenarnya saya merasa bosan ketika membaca status teman-teman di Facebook yang seolah terbelah menjadi dua kubu. Pasca ramainya kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaya Purnama atau yang biasa dipanggil Ahok, orang-orang menjadi ribut luar biasa. Banyak analis dan militan yang bermunculan, baik yang pro maupun yang kontra. Semua bisa dimaklumi.

Meneladani Rasulullah SAW
Photoright: cabrasjoan / pixabay.com

Demo 4 November yang dilakukan oleh ribuan orang yang terjadi di Jakarta membuat orang kian kencang bersuara. Sudah, saya yang berada pada posisi netral menjadi bingung bukan kepalang, semua teman, tapi berbeda pandangan membuat saya menjadi kurang suka pada keduanya. Ketidaksukaan saya bukan berarti saya membenci, tapi lebih kepada berkurangnya rasa simpati kepada mereka.

Siapa yang memendam kebencian maka dia akan menyimpan gelombang amarah luar biasa. Bila akal sehat tak jalan, maka dia akan mencari musuh yang tak sejalan dengan pemikirannya.

Memang, saya sendiri mempunyai pandangan yang mungkin berada pada salah satu sisi, tapi saya tidak mau mengeluarkannya secara vulgar. Ada proporsi yang berusaha saya takar biar seadil mungkin. Tidak mudah memang meneladanai Rasulullah SAW, kalau adu argumen, bisa-bisa malah terjadi perselisihan antar teman. Makanya, saya pilih diam.

Kabar yang beredar pun sering tak berimbang. Ada bumbu politik yang kadang begitu terasa, menyengat, dan menyudutkan salah satu fihak. Ah, ramai. Lihat saja, portal berita atau blog yang alamatnya kurang terkenal dan saya ragukan kenetralannya, beritanya dibagikan oleh mereka yang menganggap itu sesuai dengan pandangan mereka. Beberapa portal berita malah sudah diblokir pemerintah karena dianggap menyebarkan berita yang provokatif.

Sah-sah saja orang menyebarkan sebuah berita di media sosial, orang bebas melakukannya. Tapi, saya sedikit khawatir, bilamana mereka yang menyebarkan berita tersebut hanya membaca judulnya saja, maka pembodohan terhadap diri sendiri mungkin saja terjadi. Kenapa demikian? Karena bisa saja orang salah menyimpulkan isi tulisan karena hanya berdasar pada judul yang kadang begitu provokatif.

Posisi Saya Dimana? Saya Pro Atau Kontra Terhadap Kasus Ini?

Bisa saja orang mempertanyakan posisi saya, karena sering saya mengaku sebagai muslim. Padahal, bila saya merasa sebagai muslim dan agama saya dinistakan seseorang, maka saya punya hak untuk marah. Tapi, sekali lagi saya tidak mau terjebak pada hal yang menurut saya masih abu-abu. Ya, saya masih menganggap kasus ini sebagai sesuatu yang abu-abu. Ada banyak hal yang belum saya mengerti, saya tidak mau terjebak.

Seperti sudah saya sampaikan diatas, saya tidak ingin menjadi pembenci, kecuali memang sudah pasti ada orang yang wajib saya benci, itupun berusaha saya hindari. Karena bagi saya sangat sulit meneladani Rasulullah SAW. Jenjang saya baru tahap merangkak saja belum, dalam membangun sebuah tindakan nyata dalam meneladani kepribadian Beliau. Bila saya ingin meneladani Rasulullah, seharusnya saya tak perlu membenci mereka yang pro maupun yang kontra, meskipun mungkin pendapat mereka berseberangan dengan pendapat saya.

Saya mungkin tak pandai dalam agama, tapi saya ingat sebuah cerita yang sering dibacakan dalam khotbah atau dicerita-cerita sehari-hari, dimana dikisahkan pada zaman dahulu ketika Rasulullah SAW selalu dihina oleh seorang buta, tapi beliau tetap berbuat baik dan setiap hari menyuapi orang buta tersebut hingga Beliau wafat. Atau cerita saat Rasulullah SAW dilempari batu di kota Tha’if, tapi beliau hanya berdo’a untuk kebaikan penduduk kota tersebut, beliau juga menolak tawaran Malaikat Jibril yang akan menghukum penduduk kota tersebut dengan cara menghancurkan kota. Atau kisah mengenai Rasulullah SAW yang menjadi orang pertama datang untuk menjenguk seorang Yahudi yang tengah sakit, padahal si Yahudi tersebut adalah orang yang paling membenci dan memusuhi Beliau.

Ah, saya kok merasa begitu kerdil bila mendengar kisah-kisah tersebut. Meneladani Rasulullah SAW sangatlah sulit, tapi bukan menjadi hal yang tidak mungkin. Lalu, apa relevansinya dengan panasnya kasus penistaan agama ini? Tak perlu saya jelaskan, karena penjelasan saya malah bisa memperunyam suasana. Karena saya percaya, mereka yang berfikiran jernih mampu memahami apa yang saya sampaikan dan sedikit yang saya contohkan mengenai sosok teladan bernama Muhammad. Bila bukan Rasulullah SAW, siapa yang harus diteladani?. Mohon luruskan bila saya keliru.

Catatan:
Kisah Nabi Muhammad dan pengemis Yahudi buta bisa baca di tautan ini

Leave a Reply